Share yuk !

GAMEFINITY.ID, Jakarta РMenurut penulis, eSports merupakan salah satu cara marketing yang pas bagi publisher saat ini. Dimana game yang mereka publish dimainkan dan dipertandingkan  oleh para gamers profesional. Alhasil, game tersebut mendapatkan eksposure yang sangat tinggi dan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan para audience atau para penikmat eSports yang terus meningkat tajam. Bahkan menurut data dari Newzoo, di tahun 2021 mendatang akan ada 557 juta orang penikmat eSports.

Namun tentu saja, tidak semua publisher bisa menjadikan game mereka masuk ke kategori eSports. Sebab, menurut kami ada 5 syarat yang harus dipenuhi agar sebuah game bisa masuk ke kategori eSports. Apa saja? Berikut ini informasi selengkapnya:

Dari Segi Publisher

Memiliki Basis Komunitas yang Besar

Komunitas Game AOV. (Foto: Istimewa/Gamefinity.id)

Menurut penulis, komunitas merupakan sebuah elemen yang sangat penting dalam menentukan game ini layak masuk kategori eSports atau tidak. Tentunya ada banyak cara yang bisa dijalankan oleh publisher game untuk menjaring komunitas. Free Fire salah satunya. Game besutan Garena ini memiliki fansbase yang sangat besar dan banyak dimainkan oleh gamers tanah air. Bahkan berkat kepopulerannya, game ini berhasil menjadi game official yang akan dipertandingkan di Piala Presiden eSports 2020 mendatang.

Memiliki Anggaran Dana yang Besar

Evos Juara ASL 2018 (Foto: Istimewa/Gamefinity.id)

Bisa dibilang, eSports merupakan sebuah barang mewah. Dimana publisher harus menyediakan dana besar agar gamenya bisa dipertandingkan dalam sebuah kompetisi eSports. Sebab, publisher sendiri harus menggandeng beberapa vendor untuk membantu suksesnya gelaran acara eSports tersebut. Seperti penyewaan venue, caster, teknisi, bahkan sejumlah uang untuk hadiah.

Dari Segi Game

Harus Memenuhi Unsur Kompetitif

Pertandingan Clash Royale di Asian Games eSports 2018 (Foto: Istimewa/Gamefinity.id)

Tidak semua game bisa masuk sebagai kategori eSports meskipun game tersebut memiliki komunitas besar dan populer. Sebab, inti dari eSports sendiri adalah kompetisi untuk menemukan yang terbaik dari yang terbaik. Kita ambil contoh Zuma ataupun Minecraft. Kedua game tersebut memang sangat populer namun tidak ada sisi kompetitifnya. Alhasil, kedua game tersebut tidak bisa masuk kedalam kategori eSports.

Game Harus Mudah Dimainkan Namun Sulit Untuk Dikuasai

In Game Counter-Strike: Global Offensive. (Foto: Istimewa/Gamefinity.id)

Game yang dipertandingkan dalam eSports tentunya harus memiliki gameplay yang sederhana dan bisa dengan mudah dipahami. Meski begitu, bukan berarti setiap orang mampu menguasai game tersebut. Contoh mudahnya adalah CS:GO. Semua orang mungkin bisa bermain game bergenre FPS tersebut. Karena objektif dari game ini cukup sederhana dimana teroris diharuskan untuk menanam bom di lokasi yang ditentukan. Sedangkan Counter Teroris harus menghalangi para teroris untuk menjalankan aksinya. Namun dibalik itu semua, ada strategi dan meta tersendiri yang harus dipahami oleh para gamers profesional.

Memiliki Mode Penonton

Agar para penonton bisa nyaman dalam menikmati konten pertandingan eSports, tentu saja sang developer game harus mempersiapkan mode khusus untuk para penonton. Dengan adanya mode spectator, penonton bisa lebih menikmati match dan mudah dalam mendapatkan informasi tentang pertandingkan. Contoh saja spectator mode di game CS:GO. Penonton bisa mendapatkan informasi terkait kondisi keuangan dari setiap tim, senjata yang digunakan, dan masih banyak yang lainnya.

Itulah 5 point penting menurut penulis bagaimana game bisa masuk dalam kategori eSports. Apakah kalian punya tambahan point lainnya? Jika iya, silahkan sampaikan pendapatmu ke email kami di redaksi@gamefinity.id. (fa)

Share yuk !