Share yuk !

GAMEFINITY.ID, Kota Batu – Akhir-akhir ini, banyak yang memperbincangkan tentang kebijakan PSE yang diberlakukan Kominfo beberapa hari yang lalu, dan salah satu bidang yang diperhatikan adalah game lokal. Seperti yang kita tahu sendiri, bahwa platform distribusi game telah diblokir oleh pemerintah. Sebut saja Steam milik Valve, Origin milik EA, dan EGS milik Epic Games, pada waktu artikel ini ditulis, pemblokiran terhadap Steam sudah dinormalkan.

Dalam jangka waktu yang sama, salah satu petinggi Kominfo mengatakan bahwa bila beberapa aplikasi yang telah diblokir tersebut tidak mendaftar, maka akan ada penggantinya yang dibuat oleh anak bangsa. Salah satu targetnya adalah membuat marketplace game khusus developer lokal. Apakah benar game di Indonesia memerlukan bantuan dan intervensi pemerintah untuk berkembang?

Game Lokal Digital Happiness | Yahoo
Digital Happiness, Salah Satu Developer Game Asal Indonesia yang Sukses dengan DreadOut | Yahoo

Tidak lama kemudian, terdapat sebuah postingan Facebook yang juga membahas masalah yang sama. Sang author post tersebut mengatakan bahwa langkah yang diambil Kominfo merupakan hal yang benar, karena dapat menghilangkan pengaruh game luar di pasar lokal.

Membuat Platform Marketplace Sendiri untuk Game Lokal adalah Ide Buruk

Ketika mendengar rencana pemerintah untuk membuat marketplace khusus game lokal, seketika menjadi ide buruk. Mengapa hal tersebut merupakan ide buruk? Sederhana saja, karena tidak adanya persaingan. Hal yang membuat sebuah developer berkembang dalam membuat game adalah persaingan di pasar. Sebut saja persaingan PES milik Konami dengan FIFA milik EA dan CoD milik Activision dengan Medal of Honor serta Battlefield.

Dengan adanya persaingan dengan pasar luar, diharapkan developer Indonesia mampu memperbaiki diri mereka sendiri dengan standar yang semakin tinggi. Dapat dibayangkan bila saingannya hanyalah sesama game lokal, kemungkinan besar hasilnya tidak dapat besaing di pasar luar dengan standar yang lebih tinggi.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah waktu dan effort yang dibutuhkan untuk membuat marketplace seperti Steam. Steam sendiri perlu sekitar belasan tahun agar dikenal seperti saat ini. Epic Game Store dapat dikenal karena mereka yang selalu berbagi game gratis, tentu saja dengan modal yang tidak sedikit. Berkaca dari kedua platform tersebut dan kondisi saat ini, hampir mustahil dapat membuat sebuah platform yang besar tanpa effort dan biaya yang besar, kecuali EA saat membentuk Origin, EA tetaplah EA, mereka dapat melakukan apapun yang mereka mau.

Baca Juga: Apa yang Dibutuhkan oleh Developer Indonesia untuk Bersaing?

Dukungan Dana untuk Game Lokal? Lebih Baik untuk Sektor Lain

Banyak yang beranggapan bahwa memberikan suntikan dana untuk para developer lokal merupakan hal bagus. Dengan begitu mereka dapat memiliki budget lebih dalam mengembangkan game, tapi tidak semudah itu. Sampai saat ini Indonesia mampu mengeluarkan berbagai game di level indie. Game seperti Coffee Talk dan DreadOut merupakan 2 contoh yang terkenal.

Namun, bila dilihat dari cara pemerintah memperhatikan industri game, mereka beranggapan bahwa game indie sudah cukup untuk bersaing di pasar yang lebih tinggi. Pemerintah memberi bantuan kepada startup lokal termasuk para pengembang game lewat BIP berupa uang sebesar Rp. 200 Juta. Tentu saja budget Rp. 200 Juta adalah nominal yang kecil untuk game indie.

Sebagai gambaran budget untuk pengembangan AA game -tingkat selanjutnya dari game indie, game AA dapat menghabiskan budget Rp. 55 Milyar (development budget dari It Takes Two, salah satu AA game). Bahkan, game AAA seperti Metal Gear Solid V mempunyai budget di angka Rp. 1,2 Triliun.

Dengan budget di angka tersebut barulah pengembangan game dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya. Namun, lebih baik pemerintah menganggarkan dana sebesar itu ke aspek lain karena masih banyak sektor yang perlu ditingkatkan sebagai negara berkembang. Meski jumlah bantuannya terkesan kurang, usaha kecil pemerintah ini dapat diapresiasi.

Lagipula pengembangan game AA dan AAA dapat dibilang tidak worth it bila hasilnya bukanlah game free-to-play. Apalagi karena target pasarnya di Indonesia.

Baca Juga: Dampak Kebijakan PSE Pada Game Di Indonesia

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Sebenarnya ada beberapa hal yang dapat dilakukan, tapi yang paling penting adalah biarkanlah kultur game tersebut berkembang secara natural. Saat ini Indonesia memiliki perkembangan industri game yang pesat, tinggal menunggu waktu sampai ada salah satu developer game di Indonesia dikenal di kancah internasional. Asalkan tidak ada kebijakan yang seolah-olah menghalangi hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung.

Developer game indie dapat berkembang dengan cara yang sewajarnya. Ketika developer dapat membuat game yang menarik di level indie dan dapat memukau para developer besar, mereka akan dikontrak dan diberi suntikan dana oleh perusahaan tersebut.

Sebagai contoh adalah Turtle Rock Studio yang dikontrak Valve setelah mengembangkan Counter Strike: Condition Zero atau, Mojang yang memulai karirnya dengan Minecraft yang kemudian dibeli sahamnya oleh Xbox Game Studios.

Dukungan pemerintah selain dalam bentuk dana, dapat juga dalam bentuk seperti memperkenalkan produk game Indonesia ke mancanegara. Seperti melakukan negosiasi kerjasama dengan negara yang punya kultur game kuat, seperti Jepang dan AS. Kerjasama tersebut berupa pemberian investasi untuk game lokal dalam bentuk human resources dan anggaran. Dengan adanya kerjasama ini tentu saja akan dapat meningkatkan kualitas developer Indonesia kedepannya.

Nah, ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam misi mebawa game lokal ke kancah internasional. Selain itu dengan kamu melakukan top up dan voucher games kesayangan kalian itu juga termasuk daam mendukung para developer games. Kalian dapat menikmati kemudahan top up dan membeli voucher games dengan murah dan proses mudah hanya di Gamefinity.id

 

Share yuk !