Share yuk !

GAMEFINITY.ID, Salatiga – Sejak awal tahun 2010, Electronic Arts menjadi pusat perhatian bagi gamers atas praktik bisnis mereka yang cenderung negatif. Reputasi EA yang dianggap sebagai perusahaan anti-konsumen dan kapitalis total menjadi alasan mengapa popularitas EA kian menurun seiring waktu.

Atas praktik bisnisnya yang buruk, EA dinobatkan sebagai “Perusahaan Terburuk di Amerika” oleh Consumerist pada tahun 2012 dan 2013. Hal ini cukup mengherankan karena pada tahun 2000-an EA dianggap menjadi salah satu perusahaan game terbaik atas produk yang mereka rilis seperti NFS Underground 2, NFS Most Wanted, FIFA 04, dan lain-lain.

Bagaimana bisa EA bisa berubah secara drastis dalam kurun waktu yang singkat? Lantas praktik jahat apa yang mereka terapkan? Mari kita kupas mendalam.

Monopoli dan Anti-Kompetisi

FIFA 21 dengan berbagai macam lisensinya

EA menerapkan sistem monopoli dalam produk EA Sports mereka seperti FIFA, NFL, UFC, dan lain-lain. EA membuat kontrak lisensi dengan para tim dan asosiasi olahraga untuk menggunakan nama tim dan pemain asli dalam game mereka.

Hal ini membuat para kompetitor lain kesulitan dalam memperoleh lisensi resmi sehingga tim dan pemain yang dihadirkan sangat terbatas. Kontrak EA secara langsung “membunuh” kompetisi dan menciptakan monopoli.

Praktik ini ternyata sudah diterapkan sejak tahun 2005 ketika EA menandatangani kontrak eksklusif dengan NFL untuk game terbaru mereka Madden NFL 2005. Berkat kontrak eksklusif tersebut, pesaing terbesar Madden NFL yaitu ESPN NFL 2K mati dan menjadikan Madden NFL sebagai satu-satunya game NFL resmi yang ada di pasar.

Lootbox dan Pay to Win

Lootbox Star Wars Battlefront II

Seperti yang kita tahu, EA merupakan perusahaan besar pertama yang menerapkan sistem lootbox. Sistem lootbox EA pertama kali diperkenalkan dalam fitur terbaru FIFA 09 yaitu FIFA Ultimate Team. Fitur ini menuai kesuksesan dan mendatangkan banyak keuntungan bagi EA.

Menengok dari kesuksesan Ultimate Team, EA mulai memasukkan fitur lootbox ke dalam game terbarunya. Mulai dari Star Wars Battlefront II, Mass Effect Andromeda, dan lain-lain.

Sistem lootbox ini dikritik keras oleh para gamers. Karena berbeda dengan lootbox lain yang hanya berisi item kosmetik, lootbox milik EA berisi item-item yang mempengaruhi gameplay seperti senjata, armor, dan lain-lain sehingga menciptakan sistem Pay to Win.

Akusisi Game Studio

C&C Red Alert 2, game besutan Westwood Studio

Salah satu trik yang digunakan EA untuk memperluas IP mereka adalah akusisi game studio. Dari tahun 1987 sampai sekarang total ada 44 studio game yang berhasil diambil alih oleh EA.

Namun ironisnya, beberapa studio yang sudah diakusisi oleh EA malah terpaksa tutup dikarenakan restruktur divisi oleh EA dan minimnya dana yang dikucurkan oleh EA untuk pengembangan game AAA. Beberapa studio yang menjadi korban akusisi EA yaitu Westwood Studio (Command and Conquer), Black Box Games (NFS Underground 2), Maxis Studio (The Sims), Origin Systems (Ultima).

Perlakuan Buruk Terhadap Karyawan

Pada tahun 2004, EA sempat dikritik atas kebijakannya yang mempekerjakan karyawan hingga 100 jam per minggu. Kemudian beberapa desainer juga mengeluh atas kompensasi lembur yang belum dibayar. Selain itu EA juga sering mengubah konsep game sewaktu-waktu sehingga para desainer game harus mengulang kembali development dari awal.

Atas perlakuan kejam tersebut, EA mendapatkan dua tuntutan hukum atas mistreatment terhadap karyawannya. EA diwajibkan membayar kompensasi pegawainya sebesar 30.5 juta dolar.

 

Itu tadi beberapa praktik bisnis EA yang dipandang buruk oleh para gamers. Terlepas dari kontroversinya, kini EA mulai perlahan berubah dan berhasil menciptakan berbagai game yang cukup baik seperti NFS Heat, It Takes Two dan tentunya Apex Legend. Kita sebagai gamers tentunya berharap EA bisa kembali menghasilkan game berkualitas seperti 20 tahun yang lalu.

Share yuk !